Kamis, 16 Januari 2014

PERLUNYA PENDIDIKAN BERKARAKTER

Dalam era masa sekarang, pendidikan berkarakter sangatlah perlu diperdalam oleh setiap guru yang mengajar di sekolah. hal ini tidak lain dalam upaya menguatkan moral pelajar agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif.
sebaiknya pembentukan pendidikan karakter ini di mulai sejak usia dini, karena bila karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka anak tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

pendidikan berkaraterjuga harus bisa terkontrol dengan baik dalam membangun kepribadian anak didik, karena dengan adanya pendidikan berkarakterini, setidaknya dalam proses pendidikan dapat membangun masyarakat indonesia yang berkarakter. dengan kata lain, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dari segi pendidikan, melainkan moral juga dapat terbangun dengan baik dalam diri para generasi muda dewasa ini. 
namun untuk keberhasilan itu sendiri, tidak berpusat dari faktor guru dan fasilitas belajar mengajar semata. melainkan disertai adanya partisipasi masyarakat dan keluarga khususnya orang tua juga turut berperan penting dalam proses keberhasilan pendidikan berkarakter ini. sebab waktu seorang anak di sekolah lebih sedikt ketimbang waktu mereka di rumah bersama orang tuanya.

Diterapkan pendidikan berkarakter, merupakan harapan dari semua pihak aagar dapat melahirkan didikan yang mampu. disamping itu juga bisa melahirkan generasi yang mandiri dan bertanggung jawab serta mampu membuka lapangan pekerjaan denagn kemampuan yang dimilikinya.

Kita sadari bersama, bahwa bangsa kita cukup banyak mengalami penurunan kualitas karkter, mulai dari masalah kurangnya kerja sama, lebih suka mementingkan diri sendiri, golongan atau partai, samapai kepada sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. persoalan ini muncul karena lunturny nilai-nilai karakter dari sejak dini, terkait karakter perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir.

Dalam pendidikan berkarakter sanagtlah penting bagi pendidik, dimana pendidik akan mudah untuk mengetahui karakter diri masing-masing seorang siswa agar dalam suatu pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil pada suatu tujuan masing-masing siswa. karakter, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir itu sangatlah penting bagi guru mengerti akan peserta didiknya masing-masing, penting juga untuk suatu proses belajar, dimana dalam proses belajar itu guru mudah mengerti karakteristik dari masing-masing siswa, maka dari itu guru diharuskan memiliki atau memperdalam pendidikan berkarakter.

RSBI SMPN 6 Batam 
Herlina Karpan, SPd, Guru Bahasa Indonesia
Imamatun Nisa 

Rabu, 04 Desember 2013

Perkembangan Pendidikan di Indonesia

hasil pendidikan yang telah dicapai melalui institusi pendidikan formal belum dapat memuaskan semua pihak terutama para pemerhati pendidikan. Hal ini disinyalir karena masih banyak ketimpangan yang terjadi khususnya sistem pendidikan di tanah air. mengakui bahwa sistem pendidikan sekarang ini masih belum menunjukkan kemampuan life skill yang diinginkan.
Pendidikan secara nasional masih lemah. Pelajaran yang diajarkan dalam kurikulum kita belum banyak mengandung kemampuan untuk belajar. Dari sisi lain ternyata hasil pendidikan kita masih sangat rendah dari segi mentalitas. Hal ini didasari oleh pidato Mantan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri yang mengatakan bahwa mentalitas bangsa Indonesia tertinggal dibanding negara-negara lain, termasuk dengan negara tetangga terdekat sekalipun.
Masalah ini pada gilirannya bermuara pada rendahnya kadar disiplin sosial bangsa sehingga berdampak negatif terhadap kegiatan dan hasil-hasil pembangunan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kemampuan dan kecerdasan memang telah mampu mengantar Indonesia pada tingkat kehidupan dan kemajuan seperti sekarang ini. Namun saat yang bersamaan, dengan jujur harus kita akui bahwa sikap mental kita ternyata belumlah tumbuh sebanding dengan kemajuan fisik dan material yang kita capai.
Selain kenyataan di atas, persoalan mutu pendidikan Indonesia ternyata terburuk di Asia tenggara. Dalam Rakor Kesra terbatas yang diikuti empat Menteri Kabinet Gotong-Royong pada Kamis, 28 Maret 2001 di Jakarta, menyepakati, kondisi mutu pendidikan nasional dewasa ini paling buruk di Asia Tenggara. Jusuf Kalla menyatakan kondisi mutu SDM Indonesia sangat memprihatinkan di Asia. Dalam persaingan dengan negara lain, ibaratnya kita hanya mampu bersaing pada tingkat kuli dan pembantu rumah tangga.

Jumat, 15 November 2013

pendidikan dalam pembelajaran Think Pair Share


Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi setiap manusia, dimana pendidikan merupakan petunjuk bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih luas dan benar. kualitas pendidikan di indonesia ini semakin memburuk, banyak orang yang ingin menjadi guru akan tetapi tidak diterima di jurusan yang lain atau kekurangan dana, kecuali guru lama yang sudah lama menjadi guru.
pendidikan di indonesia ini sangatlah penting, apalagi pada pendidikan di desa-desa yang kurang mengerti akan arti pendidikan itu, mereka keinginan untuk bersekolah memang sangatlah antusias yang luar biasa. kualitas guru maupun kualitas teknologi pada era sekarang menjadi patokan akan pendidikan yang berkualitas.
pendidikan bisa berkualitas apabila guru bisa menjalankan proses belajar mengajar dengan baik dengan materi yang sudah di tetapkan oleh pemerintah. sarana dan prasarana juga mempenagaruhi kebutuhan atau kualitas dalam pendidikan.
pendidikan juga menjadi patokan dalam kehidupan sehari-hari, dimana dalam keseharian mampelukan pendidikan untuk sopan santun terhadap orang tua, guru, dan lingkungan disekitarnya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Di kalangan umum terutama siswa sekolah dasar, belajar tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka, belajar dipandang sebagai musuh yang patut dijauhi.
Namun kini belajar dapat dikemas agar menjadi suatu hal yang menyenangkan dan nyaman tanpa perasaan cemas, takut, serta lelah dengan panduan dari pembelajaran. Yaitu dengan cara menerapkan suatu model pembelajaran yang menarik dan  sesuai dengan karakteristik siswa.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat dipilih agar belajar menjadi suatu hal yang menyenagkan adalah model pembelajaran Think Pair Share. Model pembelajaran ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa bersama pasangan kelompoknya untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan guru. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain dan mendapatkan pemahaman dari ide yang diujinya sendiri. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat dalam proses pembelajaran jangka panjang.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya.
Menurut teori konstruktivisme, siswa sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara optimal. Siswa belajar bukanlah menerima paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Bagian terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan kemampuan mereka, bukan guru atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.

1.2.   Rumusan Masalah
Adapun beberapa masalah yang dapat kami rumuskan antara lain:
1.      Apa pengertian model pembelajaran Think Pair Share?
2.      Bagaimana karakteristik model pembelajaran Think Pair Share?
3.      Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Think Pair Share?
5.      Bagaimana penerapan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran Matematika?

1.3.   Tujuan Pembelajaran
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu:
1.      Mampu mendeskripsikan pengertian model pembelajaran Think Pair Share.
2.      Mampu mendeskripsikan karakteristik model pembelajaran Think Pair Share.
3.      Mampu mendeskripsikan langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share.
4.      Mampu mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Think Pair Share.
5.      Mampu menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran Matematika.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian model pembelajaran Think Pair Share
Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas.  Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland. Think Pair Share memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara koooperatif.
Pembelajaran dengan Think Pair Share ini akan memberikan variasi tersendiri dalam lingkungan belajar siswa. Silberman (2009: 151) mengemukakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang diselesaikan dalam kelompok kecil siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam kelompoknya.  Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa-siswa tertentu saja yang menjawab.
Think Pair Share membantu menstrukturkan diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah ditentukan, sehingga membatasi kesempatan berfikirnya yang melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya.

2.2  Karakteristik model pembelajaran Think Pair Share
Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran yaitu:
1.      Think (Berpikir secara individual)
Pada tahap Think, guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pada tahapan ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa sehingga melalui catatan tersebut guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki atau diluruskan di akhir pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk tahap ini, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, jenis dan bentuk pertanyaan yang diberikan, serta jadwal pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
Kelebihan dari tahap ini adalah adanya “think time” atau waktu berpikir yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban mereka sendiri sebelum pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain. Selain itu, guru dapat mengurangi masalah dari adanya siswa yang mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas untuk dikerjakan sendiri.
2.      Pair (Berpasangan dengan teman sebangku)
Langkah kedua adalah guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir yang didapat menjadi lebih baik, karena siswa mendapat tambahan informasi dan pemecahan masalah yang lain.
3.      Share (Berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi hasil pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Langkah ini merupakan penyempurnaan dari langkah-langkah sebelumnya, dalam arti bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok menjadi lebih memahami mengenai pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan penjelasan kelompok yang lain. Hal ini juga agar siswa benar-benar mengerti ketika guru memberikan koreksi maupun penguatan di akhir pembelajaran.

2.3  Langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share
Langkah-langkah (Syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terdiri dari lima tahapan. Kelima tahapan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tahapan
Kegiatan
Tahap 1 :
(Pendahuluan)
Memberikan orientasi kepada peserta didik
·         Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.
·         Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.
Tahap 2:
Think (Berfikir secara individu)
·         Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi.
·         Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa.
·         Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu.
Tahap 3:
Pair (Berpasangan dengan teman  sebangku)
·         Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya.
·         Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang        telah dikerjakan.
Tahap 4:
Share (Berbagi jawaban dengan pasangan lain)
Ø  Satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
Tahap 5:
Penghargaan
Ø  Siswa dinilai secara individu dan kelompok

Penjelasan dari setiap langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Tahap pendahuluan.
Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar  pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan.
2.      Tahap Think (Berpikir secara individual).
Proses Think Pair Share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.
3.      Tahap Pair (Berpasangan dengan teman sebangku).
Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama.
4.      Tahap Share (Berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas).
Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.
5.      Tahap penghargaan.
Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap Think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap Pair dan Share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.

2.4  Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Think Pair Share
Ø  Kelebihan
1.      Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertnyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2.      Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3.      Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
4.      Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil
5.      Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.    
Ø  Kekurangan
1.       Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
2.      Menghabiskan banyak waktu.
3.      Jika ada perselisihan, tidak ada penengah.
4.       Sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan muridnya rendah.

2.5  Penerapan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran Matematika
Pada kegiatan inti, guru menerapkan think pair share kepada siswa. Tahap Think, guru mengajukan pertanyaan dan meminta siswa untuk berfikir sejenak tentang materi yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh guru. Waktu berfikir ini kurang lebih 10-15 menit. Untuk mengetahui hasil daya tangkap siswa, dapat diperoleh dari  jawaban siswa ketika ditanya oleh guru mengenai materi yang dibahas.
Misalkan dalam pembahasan materi tentang Bilangan Cacah. Siswa ditanya menganai sifat-sifat operasi hitung:
Ø  Misalnya: Sifat komutatif
Sifat komutatif merupakan sifat pertukaran. Misal ada penjumlahan atau perkalian dua buah bilangan. Jika kedua bilangan ditukarkan hasilnya tetap sama. Apakah pertukaran berlaku untuk pengurangannya?
Untuk lebih memahami sifat komutatif, perhatikan contoh berikut.
·         Penjumlahan
Perhatikan hasil penjumlahan berikut.
1)      8 + 9 = 9 + 8
17 = 17
1)      20 + 30 = 30 + 20
 50 = 50
·         Perkalian
Perhatikan hasil perkalian berikut.
1)      3× 4 = 4 × 3
12 = 12
2)      7 × 5 = 5 × 7
35 = 35
Sekarang perhatikan operasi berikut
12 – 5 = 7
5 – 12 = –7
Jadi, sifat pertukaran tidak berlaku untuk pengurangan.

Selanjutnya, siswa mengerjakan LKS dengan  cara berdiskusi bersama teman sebangkunya atau pasangannya tentang sifat operasi yang lainnya (Seperti: Asosiatif, Distributif, dan Identitas). Tahap ini disebut Pair. Guru membimbing siswa dalam mengerjakan LKS. Siswa yang belum paham diberi kesempatan untuk bertanya kepada guru. Tahap Pair ini memberikan peluang bagi siswa untuk menjawab soal-soal dengan saling berdiskusi dengan pasangannya. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih efektif, karena masing- masing siswa dituntut aktif dalam pembelajaran.
Tahap selanjutnya adalah share atau berbagi, maksudnya adalah masing- masing kelompok pasangan menyampaikan hasil diskusi kepada teman sekelas. Guru membimbing siswa untuk menaggapi jawaban teman yang menyampaikan hasil diskusi. Hal ini dilakukan guru untuk melatih siswa berani mengeluarkan pendapat dan  berfikir kritis. Siswa yang aktif akan diberikan reward oleh guru  berupa “smile”.  Siswa yang mendapat “smile” terbanyak menandakan siswa tersebut aktif dalam pembelajaran. Adanya reward ini tentu menambah minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Model pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Model pembelajaran ini juga merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain.
Model pembelajaran Think Pair Share membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa.
Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran, yaitu Think (berpikir), Pair  (berpasangan), dan Sharing (berbagi).

3.2  Saran

Adapun saran yang dapat diberikan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat digunakan sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah. Serta dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya perbaikan yaitu guru dianjurkan lebih memberikan pengarahan kepada kelompok dan kepada tiap individu yang masih mengalami kesulitan, melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan memotivasi siswa agar siswa antusias dalam pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih tertib, terkendali, dan kondusif.


Makalah Pengembangan Matematika Model Pembelajar TPS ( Think Pair Share )