Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi setiap manusia, dimana pendidikan merupakan petunjuk bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih luas dan benar. kualitas pendidikan di indonesia ini semakin memburuk, banyak orang yang ingin menjadi guru akan tetapi tidak diterima di jurusan yang lain atau kekurangan dana, kecuali guru lama yang sudah lama menjadi guru.
pendidikan di indonesia ini sangatlah penting, apalagi pada pendidikan di desa-desa yang kurang mengerti akan arti pendidikan itu, mereka keinginan untuk bersekolah memang sangatlah antusias yang luar biasa. kualitas guru maupun kualitas teknologi pada era sekarang menjadi patokan akan pendidikan yang berkualitas.
pendidikan bisa berkualitas apabila guru bisa menjalankan proses belajar mengajar dengan baik dengan materi yang sudah di tetapkan oleh pemerintah. sarana dan prasarana juga mempenagaruhi kebutuhan atau kualitas dalam pendidikan.
pendidikan juga menjadi patokan dalam kehidupan sehari-hari, dimana dalam keseharian mampelukan pendidikan untuk sopan santun terhadap orang tua, guru, dan lingkungan disekitarnya.
pendidikan di indonesia ini sangatlah penting, apalagi pada pendidikan di desa-desa yang kurang mengerti akan arti pendidikan itu, mereka keinginan untuk bersekolah memang sangatlah antusias yang luar biasa. kualitas guru maupun kualitas teknologi pada era sekarang menjadi patokan akan pendidikan yang berkualitas.
pendidikan bisa berkualitas apabila guru bisa menjalankan proses belajar mengajar dengan baik dengan materi yang sudah di tetapkan oleh pemerintah. sarana dan prasarana juga mempenagaruhi kebutuhan atau kualitas dalam pendidikan.
pendidikan juga menjadi patokan dalam kehidupan sehari-hari, dimana dalam keseharian mampelukan pendidikan untuk sopan santun terhadap orang tua, guru, dan lingkungan disekitarnya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Di kalangan umum terutama siswa
sekolah dasar, belajar tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka,
belajar dipandang sebagai musuh yang patut dijauhi.
Namun kini belajar dapat dikemas
agar menjadi suatu hal yang menyenangkan dan nyaman tanpa perasaan cemas,
takut, serta lelah dengan panduan dari pembelajaran. Yaitu dengan cara menerapkan
suatu model pembelajaran yang menarik dan
sesuai dengan karakteristik siswa.
Salah satu model pembelajaran
kooperatif yang dapat dipilih agar belajar menjadi suatu hal yang menyenagkan
adalah model pembelajaran Think Pair Share. Model pembelajaran ini
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa bersama pasangan kelompoknya
untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan guru. Siswa dapat
mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain dan mendapatkan pemahaman
dari ide yang diujinya sendiri. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran
dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga
bermanfaat dalam proses pembelajaran jangka panjang.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dilandasi oleh teori
belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus
menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi
baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak
lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan,
mereka harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk
dirinya.
Menurut teori konstruktivisme, siswa
sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru mendorong siswa untuk
mengembangkan potensi secara optimal. Siswa belajar bukanlah menerima
paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang
mengemasnya. Bagian terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam
proses pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan kemampuan mereka,
bukan guru atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil
belajarnya.
1.2.
Rumusan
Masalah
Adapun beberapa masalah yang dapat
kami rumuskan antara lain:
1. Apa pengertian model pembelajaran Think Pair Share?
2. Bagaimana karakteristik model
pembelajaran Think Pair Share?
3. Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share?
4. Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Think Pair Share?
5. Bagaimana penerapan model
pembelajaran Think Pair Share dalam
pembelajaran Matematika?
1.3.
Tujuan
Pembelajaran
Adapun
tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu:
1. Mampu mendeskripsikan pengertian
model pembelajaran Think Pair Share.
2. Mampu mendeskripsikan karakteristik
model pembelajaran Think Pair Share.
3. Mampu mendeskripsikan langkah-langkah
model pembelajaran Think Pair Share.
4. Mampu mendeskripsikan kelebihan dan
kekurangan model pembelajaran Think Pair
Share.
5. Mampu menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran
Matematika.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian model pembelajaran Think Pair Share
Model pembelajaran think pair
share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model
pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas. Think Pair Share dikembangkan oleh Frank
Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland. Think Pair Share memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat
memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu
sama lain. Melalui cara seperti ini diharapkan
siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada
kelompok-kelompok kecil secara koooperatif.
Pembelajaran
dengan Think Pair Share ini akan
memberikan variasi tersendiri dalam lingkungan belajar siswa. Silberman (2009: 151) mengemukakan bahwa salah
satu cara terbaik untuk mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan
tugas belajar yang diselesaikan dalam kelompok kecil siswa. Dengan Think Pair Share siswa
belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam kelompoknya.
Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan
berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru,
tidak seperti biasanya hanya siswa-siswa tertentu saja yang menjawab.
Think Pair Share membantu menstrukturkan diskusi.
Siswa mengikuti proses yang telah ditentukan, sehingga membatasi kesempatan
berfikirnya yang melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus
berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya.
2.2 Karakteristik model pembelajaran Think Pair Share
Ciri utama pada model pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share
adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Think (Berpikir
secara individual)
Pada tahap
Think, guru mengajukan suatu
pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan siswa diminta
untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan.
Pada tahapan ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena
guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa sehingga melalui catatan tersebut
guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki atau diluruskan di akhir
pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk tahap ini, guru harus
mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk menjawab pertanyaan yang
diberikan, jenis dan bentuk pertanyaan yang diberikan, serta jadwal
pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
Kelebihan
dari tahap ini adalah adanya “think time” atau waktu berpikir yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban mereka sendiri sebelum
pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain. Selain itu, guru dapat mengurangi
masalah dari adanya siswa yang mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas
untuk dikerjakan sendiri.
2. Pair
(Berpasangan dengan teman sebangku)
Langkah
kedua adalah guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan
mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat
menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau
5 menit untuk berpasangan. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai
hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir yang didapat menjadi lebih
baik, karena siswa mendapat tambahan informasi dan pemecahan masalah yang lain.
3. Share (Berbagi
jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
Pada
langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi hasil
pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas. Pada langkah
ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke
pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan
tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Langkah ini merupakan
penyempurnaan dari langkah-langkah sebelumnya, dalam arti bahwa langkah ini
menolong agar semua kelompok menjadi lebih memahami mengenai pemecahan masalah
yang diberikan berdasarkan penjelasan kelompok yang lain. Hal ini juga agar
siswa benar-benar mengerti ketika guru memberikan koreksi maupun penguatan di
akhir pembelajaran.
2.3 Langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share
Langkah-langkah (Syntaks)
model pembelajaran kooperatif tipe Think
Pair Share terdiri dari lima tahapan. Kelima tahapan tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut:
|
Tahapan
|
Kegiatan
|
|
Tahap
1 :
(Pendahuluan)
Memberikan
orientasi kepada peserta didik
|
·
Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap
kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.
·
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.
|
|
Tahap
2:
Think
(Berfikir
secara individu)
|
·
Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan
demonstrasi.
·
Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh
siswa.
·
Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu.
|
|
Tahap
3:
Pair
(Berpasangan
dengan teman sebangku)
|
·
Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya.
·
Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas
yang telah dikerjakan.
|
|
Tahap 4:
Share
(Berbagi
jawaban dengan pasangan lain)
|
Ø Satu
pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh
siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
|
|
Tahap
5:
Penghargaan
|
Ø Siswa
dinilai secara individu dan kelompok
|
Penjelasan
dari setiap langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap pendahuluan.
Awal
pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa
agar pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan
aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan.
2. Tahap Think (Berpikir secara individual).
Proses
Think Pair Share dimulai pada saat
guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini,
siswa diberi batasan waktu (“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya
secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru
harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang
diberikan.
3. Tahap Pair (Berpasangan dengan teman sebangku).
Pada
tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa
pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa
tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman
sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk
mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh
guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan
jawaban secara bersama.
4. Tahap Share (Berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas).
Pada
tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara
kooperatif kepada kelas. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai
dari hasil pemikiran mereka.
5. Tahap penghargaan.
Siswa
mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai
individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap Think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap Pair dan Share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap
seluruh kelas.
2.4 Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Think Pair Share
Ø Kelebihan
1. Memungkinkan siswa untuk merumuskan
dan mengajukan pertanyaan-pertnyaan mengenai materi yang diajarkan karena
secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru,
serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2. Siswa akan terlatih menerapkan
konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan
kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran
karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya
terdiri dari 2 orang.
4. Siswa memperoleh kesempatan untuk
mempresentasikan hasil
5. Memungkinkan guru untuk lebih banyak
memantau siswa dalam proses pembelajaran.
Ø Kekurangan
1. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
2. Menghabiskan banyak waktu.
3. Jika ada perselisihan, tidak ada
penengah.
4. Sangat
sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan muridnya rendah.
2.5 Penerapan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran Matematika
Pada kegiatan inti, guru menerapkan think
pair share kepada siswa. Tahap Think, guru mengajukan pertanyaan dan
meminta siswa untuk berfikir sejenak tentang materi yang sebelumnya sudah
dijelaskan oleh guru. Waktu berfikir ini kurang lebih 10-15 menit. Untuk
mengetahui hasil daya tangkap siswa, dapat diperoleh dari jawaban siswa
ketika ditanya oleh guru mengenai materi yang dibahas.
Misalkan dalam pembahasan materi
tentang Bilangan Cacah. Siswa ditanya menganai sifat-sifat operasi hitung:
Ø Misalnya: Sifat komutatif
Sifat komutatif merupakan sifat
pertukaran. Misal ada penjumlahan atau perkalian dua buah bilangan. Jika kedua
bilangan ditukarkan hasilnya tetap sama. Apakah pertukaran berlaku untuk
pengurangannya?
Untuk lebih memahami sifat komutatif,
perhatikan contoh berikut.
·
Penjumlahan
Perhatikan hasil penjumlahan berikut.
1)
8
+ 9 = 9 + 8
17 = 17
1)
20
+ 30 = 30 + 20
50 = 50
·
Perkalian
Perhatikan hasil perkalian berikut.
1)
3×
4 = 4 × 3
12 = 12
2)
7
× 5 = 5 × 7
35 = 35
Sekarang perhatikan operasi berikut
12 – 5 = 7
5 – 12 = –7
Jadi, sifat pertukaran tidak berlaku untuk pengurangan.
Selanjutnya, siswa mengerjakan LKS
dengan cara berdiskusi bersama teman sebangkunya atau pasangannya tentang
sifat operasi yang lainnya (Seperti: Asosiatif, Distributif, dan Identitas). Tahap
ini disebut Pair. Guru membimbing siswa dalam mengerjakan LKS. Siswa
yang belum paham diberi kesempatan untuk bertanya kepada guru. Tahap Pair
ini memberikan peluang bagi siswa untuk menjawab soal-soal dengan saling
berdiskusi dengan pasangannya. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih efektif,
karena masing- masing siswa dituntut aktif dalam pembelajaran.
Tahap selanjutnya adalah share atau
berbagi, maksudnya adalah masing- masing kelompok pasangan menyampaikan hasil
diskusi kepada teman sekelas. Guru membimbing siswa untuk menaggapi jawaban
teman yang menyampaikan hasil diskusi. Hal ini dilakukan guru untuk melatih
siswa berani mengeluarkan pendapat dan berfikir kritis. Siswa yang aktif akan
diberikan reward oleh guru berupa “smile”. Siswa yang
mendapat “smile” terbanyak menandakan siswa tersebut aktif dalam pembelajaran.
Adanya reward ini tentu menambah minat dan motivasi siswa dalam
mengikuti pembelajaran.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Model pembelajaran Think Pair
Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola
diskusi kelas. Model pembelajaran ini juga merupakan pembelajaran kelompok
dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu
dengan teman yang lain.
Model pembelajaran Think Pair
Share membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung
jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan
dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak
kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan
partisipasi siswa.
Ciri utama pada model pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share
adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran, yaitu
Think (berpikir), Pair (berpasangan),
dan Sharing (berbagi).
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan
bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat digunakan
sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
memecahkan masalah. Serta dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya
perbaikan yaitu guru dianjurkan lebih memberikan pengarahan kepada kelompok dan
kepada tiap individu yang masih mengalami kesulitan, melibatkan siswa secara
aktif dalam pembelajaran dan memotivasi siswa agar siswa antusias dalam
pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih tertib, terkendali, dan
kondusif.
Makalah Pengembangan Matematika Model Pembelajar TPS ( Think Pair Share )